Tradisi
Sibernatika
Sibernetika merupakan tradisi
sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak orang saling berinteraksi,
memengaruhi satu sama lainnya. Teori-teori dalam sibernerika menjelaskan
tentang bagaimana proses fisik, biologis, social, dan perilaku bekerja. Dalam
sibernetika komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau
variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, membentuk serta
mengontrol karakter keselutuhan sistem, dan layaknya organisme, menerima
keseimbangan dan perubahan.
Gagasan
utama dari tradisi sibernatika adalah Ide sistem membentuk inti pemikiran
sibernetika. Sistem merupakan seperangkat komponen-komponen yang saling
berinteraksi, yang bersama membentuk sesuatu yang lebih dari sekedar sejumlah
bagian-bagian. Ide-ide pokok teori sistem sangat berkaitan dan konsisten,
semuanya memiliki pengaruh utama pada banyak hal, termasuk komunikasi.
Dalam tradisi Sibernetika ada
beberapa teori yang dapat diklasifikasikan didalamnya, yakni:
1.
Teori Stukturasi ( structuration theory)
Strukturation berasal dari kata
struktur (structure) yang merujuk pada aturan-aturan dan sumber daya yang
digunakan para anggotanya untuk menciptakan dan mempertahankan sistem, dan juga
untuk mengarahkan perilaku mereka.
Penstrukturan (Stucturation) dalam
kelompok dideskripsikan sebagai “ proses dimana sistem diproduksi dan
direproduksi melalui pemakaian aturan dan sumber daya oleh anggota-anggota”
(Poole, Seibold, & McPhee,1996, hal. 117)
Asumsi
Structuration Theory :
1.
Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui penggunaan aturan
dan sumber daya.
2.
Aturan Komunikasi berfungsi baik sebagai medium untuk maupun hasil akhir dari
interaksi.
3.
Struktur kekuasaan ada di dalam organisasi dan menuntun proses pengambilan
keputusan dengan menyediakan informasi mengenai bagaimana untuk mencapai tujuan
kita dengan cara yang terbaik.
Giddens mengemukakan bahwa setiap
tindakan atau perilaku berakibat pada produksi sesuatu yang baru-sebuah
tindakan segar (fresh act). Tiap tindakan atau perilaku dimana kelompok atau
organisasi terlibat dipengaruhi dan diakibatkan oleh masa lalu. Sejarah
berfungsi sebagai referensi untuk memehami aturan dan sumber daya apa yang
dibutuhkan untuk beroperasi di dalam sebuah sistem. Structuration theory juga
mengambil pemikiran bahwa aturan secara berkesinambungan menyediakan tata cara
dan batasan bagi perilaku kelompok dengan menjalankan peraturan berdasarkan
harapan sebelumnya.
Jadi, Structuration theory ini
berasumsi bahwa untuk memahami aturan dari suatu sistem sosial, para aktornya
harus mengetahui paling tidak sumber daya masa yang melatari suatu aturan.
2.
Teori Informasi Organisasi (Organizational Information Theory)
Teori informasi organisasi adalah
salah satu cara untuk menjelaskan bagaimana organisasi membuat informasi yang
membingungkan atau ambigu menjadi masuk akal. Teori ini berfokus pada proses
pengorganisasian anggota organisasi untuk mengelola informasi daripada berfokus
pada struktur organisasi itu sendiri. Sejumlah asumsi yang mendasari teori ini
adalah:
1.
Organisasi manusia ada dalam sebuah lingkungan informasi.
2.
Informasi yang diterima sebuah organisasi berbeda dalam hal ketidakjelasan .
3.
Organisasi manusia terlibat di dalam pemrosesan informasi untuk mengurangi
ketidakjelasan informasi.
Asumsi yang pertama menjelaskan
bahwa organisasi bergantung pada informasi agar dapat berfungsi dengan efektif
dan mencapai tujuan mereka. Ia menyatakan bahwa lingkungan informasi ini
diciptakan oleh anggota organisasi. Mereka menentukan tujuan yang mengharuskan
mereka untuk memperoleh informasi baik dari sumber internal maupun eksternal.
Asumsi kedua yang diajukan oleh
Weick berfokus pada ambiguitas yang ada dalam informasi. Pesan-pesan berbeda
dalam hal sejauh mana mereka dapat dipahami. Sebuah organisasi harus menentukan
mana anggota yang lebih mengetahui atau berpengalaman dalam berurusan dengan
informasi penting yang didapatkan. Sebuah rencana untuk memahami informasi
harus disusun.
Ketidakjelasan (equivocality)
merujuk pada pesan yang rumit, tidak pasti, dan tidak dapat diprediksi. Pesan
yang tidak jelas seringkali dikirim di dalam organisasi. Karena pesan-pesan ini
tidak secara jelas dipahami, orang harus mengembangkan kerangka atau rencana
untuk mengurangi ambiguitas pesan.
Dalam usaha untuk mengurangi
ambiguitas informasi, asumsi ketiga dari teori ini menyatakan bahwa organisasi mulai
dalam aktivitas kerja sama untuk membuat informasi yang diterima dapat lebih
dipahami.
3.
Teori Lingkaran keheningan (Spiral of Silent Theory)
Dengan opini publik sebagai latar belakang untuk teori,
sekarang kita mengeksplorasi tiga asumsi dari Spiral Teori Silence. Noelle-Neumann
(1991, 1993) sebelumnya ditangani pernyataan ini:
1.
Masyarakat mengancam individu menyimpang dengan
isolasi; takut isolasi meresap.
2.
Ketakutan akan isolasi menyebabkan individu untuk mencoba
untuk menilai iklim opini setiap saat.
3.
Perilaku Umum dipengaruhi oleh penilaian opini publik.
Asumsi pertama menegaskan bahwa masyarakat memegang
kekuasaan atas orang-orang yang tidak sesuai dengan ancaman isolasi. Noelle-Neumann
percaya bahwa tatanan masyarakat kita tergantung pada orang umumnya mengakui dan
endorsing satu set nilai. Dan itu adalah opini publik yang menentukan apakah ini nilai memiliki keyakinan sama seluruh
populasi. Ketika orang setuju pada seperangkat nilai-nilai, maka takut isolasi menurun. Asumsi
kedua teori mengidentifikasi orang sebagai penilai konstan iklim opini publik. Noelle-Neumann berpendapat bahwa
individu menerima informasi tentang opini publik dari dua sumber: obser- pribadi
elevasi dan media. Pertama, mari kita membahas
bagaimana orang dapat secara pribadi melayani opini publik dan kemudian
memeriksa peran media.
Noelle-Neumann (1991) menyatakan bahwa orang-orang
terlibat dalam kuasi-statistik kemampuan untuk menilai opini publik. Rasa kuasi-statistik berarti
bahwa orang-orang mampu memperkirakan kekuatan sisi yang berlawanan dalam debat
publik. Mereka dapat melakukan hal ini dengan mendengarkan pandangan
orang lain dan menggabungkan bahwa pengetahuan tepi ke sudut pandang mereka sendiri.
Sebagaimana telah kita bahas, Spiral Teori Silence
bertumpu pada opini publik. Noelle-Neumann (1993) memperingatkan, bagaimanapun, bahwa
"banyak dari iklan- populasi bertepatan sikap untuk tenor media "(hlm.
272). Nancy Eckstein dan Paul Turman (2002) setuju. Mereka mengklaim bahwa
"media dapat memberikan kekuatan dibelakang spiral keheningan karena dianggap percakapan satu sisi,
sebuah-individu bentuk umum komunikasi di mana orang merasa tidak berdaya untuk merespon.
Kesediaan untuk berbicara sangat tergantung pada
media. tanpa dukungan pelabuhan dari orang lain untuk pandangan yang berbeda,
orang akan tetap konsonan dengan views ditawarkan di media. Bahkan, Noelle-Neumann
(1993) berpendapat bahwa Media bahkan memberikan kata-kata dan frase sehingga orang yakin dapat berbicara
tentang subyek.
Sibernetika memandang komunikasi
sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling
berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami sebagai sistem yang
terdiri dari bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu
sama lain. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu,
percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan
masyarakat. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keterkaitan antara
ketiga teori ini dengan tradisi sibernatika ialah terletak pada komunikasi
sebagai pengolah informasi melalui interaksi dan proses saling mempengaruhi.
Daftar Pustaka
West,Richard
and Lynn H.Turner. 2010. Introducing
Communication Theory. New York: McGraw Hill
Littlejohn,
Stephen W and Karen A.Foss. 2009. Theories
of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar