Widget whos. Amung.us

Kamis, 19 Mei 2016

Tradisi Sibernetika



Tradisi Sibernatika
            Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak orang saling berinteraksi, memengaruhi satu sama lainnya. Teori-teori dalam sibernerika menjelaskan tentang bagaimana proses fisik, biologis, social, dan perilaku bekerja. Dalam sibernetika komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, membentuk serta mengontrol karakter keselutuhan sistem, dan layaknya organisme, menerima keseimbangan dan perubahan.
Gagasan utama dari tradisi sibernatika adalah Ide sistem membentuk inti pemikiran sibernetika. Sistem merupakan seperangkat komponen-komponen yang saling berinteraksi, yang bersama membentuk sesuatu yang lebih dari sekedar sejumlah bagian-bagian. Ide-ide pokok teori sistem sangat berkaitan dan konsisten, semuanya memiliki pengaruh utama pada banyak hal, termasuk komunikasi.
            Dalam tradisi Sibernetika ada beberapa teori yang dapat diklasifikasikan didalamnya, yakni:
1. Teori Stukturasi ( structuration theory)
            Strukturation berasal dari kata struktur (structure) yang merujuk pada aturan-aturan dan sumber daya yang digunakan para anggotanya untuk menciptakan dan mempertahankan sistem, dan juga untuk mengarahkan perilaku mereka.
            Penstrukturan (Stucturation) dalam kelompok dideskripsikan sebagai “ proses dimana sistem diproduksi dan direproduksi melalui pemakaian aturan dan sumber daya oleh anggota-anggota” (Poole, Seibold, & McPhee,1996, hal. 117)
Asumsi Structuration Theory :
1. Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui penggunaan aturan dan sumber daya.
2. Aturan Komunikasi berfungsi baik sebagai medium untuk maupun hasil akhir dari interaksi.
3. Struktur kekuasaan ada di dalam organisasi dan menuntun proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi mengenai bagaimana untuk mencapai tujuan kita dengan cara yang terbaik.
            Giddens mengemukakan bahwa setiap tindakan atau perilaku berakibat pada produksi sesuatu yang baru-sebuah tindakan segar (fresh act). Tiap tindakan atau perilaku dimana kelompok atau organisasi terlibat dipengaruhi dan diakibatkan oleh masa lalu. Sejarah berfungsi sebagai referensi untuk memehami aturan dan sumber daya apa yang dibutuhkan untuk beroperasi di dalam sebuah sistem. Structuration theory juga mengambil pemikiran bahwa aturan secara berkesinambungan menyediakan tata cara dan batasan bagi perilaku kelompok dengan menjalankan peraturan berdasarkan harapan sebelumnya.
            Jadi, Structuration theory ini berasumsi bahwa untuk memahami aturan dari suatu sistem sosial, para aktornya harus mengetahui paling tidak sumber daya masa yang melatari suatu aturan.
2. Teori Informasi Organisasi (Organizational Information Theory)
            Teori informasi organisasi adalah salah satu cara untuk menjelaskan bagaimana organisasi membuat informasi yang membingungkan atau ambigu menjadi masuk akal. Teori ini berfokus pada proses pengorganisasian anggota organisasi untuk mengelola informasi daripada berfokus pada struktur organisasi itu sendiri. Sejumlah asumsi yang mendasari teori ini adalah:
1. Organisasi manusia ada dalam sebuah lingkungan informasi.
2. Informasi yang diterima sebuah organisasi berbeda dalam hal ketidakjelasan .
3. Organisasi manusia terlibat di dalam pemrosesan informasi untuk mengurangi ketidakjelasan informasi.
            Asumsi yang pertama menjelaskan bahwa organisasi bergantung pada informasi agar dapat berfungsi dengan efektif dan mencapai tujuan mereka. Ia menyatakan bahwa lingkungan informasi ini diciptakan oleh anggota organisasi. Mereka menentukan tujuan yang mengharuskan mereka untuk memperoleh informasi baik dari sumber internal maupun eksternal.
            Asumsi kedua yang diajukan oleh Weick berfokus pada ambiguitas yang ada dalam informasi. Pesan-pesan berbeda dalam hal sejauh mana mereka dapat dipahami. Sebuah organisasi harus menentukan mana anggota yang lebih mengetahui atau berpengalaman dalam berurusan dengan informasi penting yang didapatkan. Sebuah rencana untuk memahami informasi harus disusun.
            Ketidakjelasan (equivocality) merujuk pada pesan yang rumit, tidak pasti, dan tidak dapat diprediksi. Pesan yang tidak jelas seringkali dikirim di dalam organisasi. Karena pesan-pesan ini tidak secara jelas dipahami, orang harus mengembangkan kerangka atau rencana untuk mengurangi ambiguitas pesan.
            Dalam usaha untuk mengurangi ambiguitas informasi, asumsi ketiga dari teori ini menyatakan bahwa organisasi mulai dalam aktivitas kerja sama untuk membuat informasi yang diterima dapat lebih dipahami.
3. Teori Lingkaran keheningan (Spiral of Silent Theory)
            Dengan opini publik sebagai latar belakang untuk teori, sekarang kita mengeksplorasi tiga asumsi dari Spiral Teori Silence. Noelle-Neumann (1991, 1993) sebelumnya ditangani pernyataan ini:
1. Masyarakat mengancam individu menyimpang dengan isolasi; takut isolasi meresap.
2. Ketakutan akan isolasi menyebabkan individu untuk mencoba untuk menilai iklim opini setiap saat.
3. Perilaku Umum dipengaruhi oleh penilaian opini publik.
            Asumsi pertama menegaskan bahwa masyarakat memegang kekuasaan atas orang-orang yang tidak sesuai dengan ancaman isolasi. Noelle-Neumann percaya bahwa tatanan masyarakat kita tergantung pada orang umumnya mengakui dan endorsing satu set nilai. Dan itu adalah opini publik yang menentukan apakah ini nilai memiliki keyakinan sama seluruh populasi. Ketika orang setuju pada seperangkat nilai-nilai, maka takut isolasi menurun. Asumsi kedua teori mengidentifikasi orang sebagai penilai konstan iklim opini publik. Noelle-Neumann berpendapat bahwa individu menerima informasi tentang opini publik dari dua sumber: obser- pribadi elevasi dan media. Pertama, mari kita membahas bagaimana orang dapat secara pribadi melayani opini publik dan kemudian memeriksa peran media.
            Noelle-Neumann (1991) menyatakan bahwa orang-orang terlibat dalam kuasi-statistik kemampuan untuk menilai opini publik. Rasa kuasi-statistik berarti bahwa orang-orang mampu memperkirakan kekuatan sisi yang berlawanan dalam debat publik. Mereka dapat melakukan hal ini dengan mendengarkan pandangan orang lain dan menggabungkan bahwa pengetahuan tepi ke sudut pandang mereka sendiri. Sebagaimana telah kita bahas, Spiral Teori Silence bertumpu pada opini publik. Noelle-Neumann (1993) memperingatkan, bagaimanapun, bahwa "banyak dari iklan- populasi bertepatan sikap untuk tenor media "(hlm. 272). Nancy Eckstein dan Paul Turman (2002) setuju. Mereka mengklaim bahwa "media dapat memberikan kekuatan dibelakang spiral keheningan karena dianggap percakapan satu sisi, sebuah-individu bentuk umum komunikasi di mana orang merasa tidak berdaya untuk merespon. Kesediaan untuk berbicara sangat tergantung pada media. tanpa dukungan pelabuhan dari orang lain untuk pandangan yang berbeda, orang akan tetap konsonan dengan views ditawarkan di media. Bahkan, Noelle-Neumann (1993) berpendapat bahwa Media bahkan memberikan kata-kata dan frase sehingga orang yakin dapat berbicara tentang subyek. 
            Sibernetika memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keterkaitan antara ketiga teori ini dengan tradisi sibernatika ialah terletak pada komunikasi sebagai pengolah informasi melalui interaksi dan proses saling mempengaruhi.



Daftar Pustaka
West,Richard and Lynn H.Turner. 2010. Introducing Communication Theory. New York: McGraw Hill
Littlejohn, Stephen W and Karen A.Foss. 2009. Theories of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar